Selasa, 13 November 2012

Duduk (dan mengerjakan sesuatu yang tidak disuka) Itu Lebih Melelahkan Daripada Headbang

Sudah hampir dua minggu di mana saya bekerja di suatu kantor (tidak menyebut merk dagang). Dan saya merasa stres! Mungkin bukan dengan pekerjaannya, karena pekerjaannya seharusnya memungkinkan saya untuk menulis dan berjalan-jalan meliput event. Saya suka menulis dan, walaupun saya buka tipe pemburu berita, meliput suatu event itu juga lumayan asik. Yang bikin saya stres itu adalah kumichou.

Saya singkat saja. Intinya kumichou itu kalau memerintahkan sesuatu sering tidak jelas. Selain itu, kumichou juga tampaknya tidak sadar kalau saya ini adalah orang baru yang perlu belajar dulu. Seakan-akan kumichou menganggap saya ini adalah orang lama yang tahu segalanya, seperti kumichou. Kadang juga sering memakai bahasa yang saya tidak mengerti. Kalau ini memang masalah intelektual, tapi kadang juga memang murni masalah bahasa. Karena kumichou dan saya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, kadang pemilihan kata pun juga berbeda. Hal-hal tersebut di atas benar-benar membuat saya terlihat seperti orang bodoh. Awalnya saya kepikiran dengan image saya ini. Tapi lama-lama saya cuek (dan memang saya ini orangnya cuek). Bukannya tidak peduli, tapi saya cuek walaupun saya tidak mengerti. Saya akan jujur dan memperlihatkan ketidakmengertian saya. Daripada sok tahu.

Saya juga belum punya 'lahan' yang pasti untuk bekerja. Jadi seringnya saya kerja random, serabutan. Dan itu sangatlah tidak menyenangkan. Yang membuat saya keberatan juga adalah jam kerjanya. Kami selalu bekerja melebihi jam kerja yang seharusnya. Lebihnya tidak tanggung-tanggung, bisa lebih dari 1 jam. Dan itu sama sekali tidak mendapat uang lembur. No way! I don't have life and I don't get money either. I still want to make my real dreams come true. And this job is not my dream at all.

Saya akan tetap bertahan sampai kontrak habis. Saya mau menjaga nama baik. Setelah itu... I'll go chase my dreams! おわり。

Jumat, 02 November 2012

Love and Obsession: A Story of My Disorder

Allow me to use Bahasa Indonesia 'cause I'm not in the mood of using English. This writing is only my opinion so I don't want to offend anyone.

Aku itu moody.
Aku itu bosenan.
Aku itu cepat heboh, untuk kemudian cepat bosen.
Itulah B-type. Lhoh, jangan salahkan blood type.

Tapi memang begitulah aku. Aku adalah seorang maniak musik yang bercita-cita menjadi musisi, singer-songwriter. Sebagai pecinta musik, tentu saja aku banyak mendengarkan berbagai jenis musik. Mulai dari yang paling pelan sampai yang paling keras. Dan aku selalu seperti itu.

Masalah utama yang membuatku terlihat labil di mata orang adalah sifatku yang moody dan bosenan. Tiap kali suka satu artist, aku selalu heboh tapi kemudian aku akan bosan dengan artist itu karena aku menemukan artist lain yang menurutku lebih keren. Tidak asik memang, dan tidak keren juga sifat seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, sudah karakterku.

Sekarangpun masih begitu. Saat ini aku sedang menyukai sebuah band yang menurutku sangat "wow" karena musiknya yang semangat, liriknya yang mengena, dan terutama vokalnya yang di atas rata-rata. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan menyukai mereka, tapi... Kita lihat saja.

Setelah ku telaah lagi fenomena kebosananku ini, ada satu gejala yang selalu muncul di setiap masanya: Aku selalu jatuh cinta pada salah satu personelnya. Yang kumaksud jatuh cinta di sini adalah terobsesi. Kebanyakan karena mereka terlihat ganteng di mataku. Aku merasa seperti memiliki mereka. Aku mencari asal-usul mereka dan mengetahui segala sesuatu tentang mereka. Kadang aku menyukai mereka memang hanya karena mereka ganteng semata. Padahal mereka musisi, yang seharusnya kuperhatikan musiknya. Tapi memang rata-rata personel yang ku sukai itu adalah gitaris. Berhubung aku juga bukan gitaris yang jago, waktu aku bilang kalau permainan mereka keren, tampaknya itu hanya efek dari kecintaanku pada (fisik) mereka. Pada kenyataannya, aku tidak begitu paham tentang gitar.

Mungkin saat-saat aku objektif adalah saat aku menyukai vokalisnya. Karena aku juga seorang vokalis, aku cukup mengerti tentang bernyanyi beserta teknik-tekniknya. Saat aku mendengar seorang vokalis, aku bisa menilai mereka secara objektif dan biasanya aku akan jatuh cinta pada suaranya, bukan fisiknya. Seandainya memang sang vokalis itu ganteng, itu hanya bonus. Tapi kecintaanku pada suaranya tetap lebih tinggi daripada kecintaanku pada fisiknya. Bahkan aku akan lebih merasa "aroused" saat mendengar suaranya daripada melihat fisik(wajah)nya.

Kemudian muncul sebuah masalah. Walaupun yang membuatku suka pada suatu band itu adalah vokalisnya, dan walaupun awalnya aku menyukai vokalisnya. Aku selalu berpindah ke lain hati, karena melihat personel lain yang lebih ganteng. Biasanya sasaranku adalah gitaris. Mereka memang terlihat keren dengan gitarnya. Dan seperti yang sudah kujelaskan di atas, kecintaanku pun mulai ternoda dan aku mulai menjadi subjektif.

Dimulailah hari-hari di mana aku terobsesi dengan sang personel band. Hidupku benar-benar dipenuhi bayangan(fisik)nya. Aku jadi hampir gila karenanya. Dan setelah kupikirkan lagi, yang kusukai itu "dia", bukan murni musiknya. Bahkan saat aku mendengar sesuatu yang salah dengan musiknya, aku menutup telinga dan pretending bahwa musik itu keren.

Itu terjadi sampai aku menemukan musik baru yang berbeda. Lalu akupun meninggalkannya.

Berita baiknya... Telah terbentuk sebuah titik balik terutama semenjak aku serius merampungkan skripsiku. Saat itu, jujur, aku tidak terlalu memikirkan band favoritku. Bahkan playlistku yang sebelumnya hanya berisi lagu-lagunya, menjadi tercampur dengan artists lainnya. Ada yang rock, pop, R&B, ya, aku mendengarkan banyak jenis musik waktu itu. Bahkan aku juga menyukai Lady Gaga. Lalu ada sebuah kejadian di mana seorang sahabat yang selalu membuatku stay in tune dengan band favoritku tiba-tiba pergi. Aku pun agak sedikit kehilangan semangatku yang dulu. Setelah skripsiku selesai, ada kekosongan dalam diriku. Saat itu aku tidak begitu terobsesi dengan band favoritku, tapi aku juga tidak menyukai artist baru. Butuh waktu agak lama sampai akhirnya aku menemukan spirit di band yang aku suka sekarang. Namun sebenarnya aku sudah mengenal mereka jauh sebelum itu, bahkan nama mereka masuk dalam ucapan terima kasihku di skripsi bersama dengan band favoritku saat itu.

Berita baiknya lagi... Sudah cukup lama aku mengenal mereka, aku masih tidak menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta seperti yang sebelumnya. Di dalam band ini sebenarnya ada personel yang ganteng. Tapi entah kenapa aku tidak sampai jatuh cinta lagi. Good omen?

Ya, memang, aku menyukai vokalisnya. Oleh karena itu aku lebih objektif. Perumpamaannya: I'll kiss him if he sings well, and I'll punch him if he sings poorly. Kebiasaanku mengorek informasi pun juga berkurang drastis. Jujur, aku tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi pada hidupnya. Aku lebih peduli dengan apa yang terjadi pada musiknya. Aku hanya perlu menonton konsernya!

Juga... Sekarang aku tidak terbayang-bayang oleh sang idola ke manapun aku pergi. Kegemaranku meng-upload foto-fotonya semata-mata adalah bentuk rasa cintaku pada suaranya yang benar-benar merubah hidupku. Saat melihatnya dan mendengarkan suaranya pertama kali, aku seperti diingatkan untuk kembali ke diriku yang sebenarnya, karena sudah beberapa lama aku mencoba meniru gaya menyanyi Jepang yang berbeda dengan gaya menyanyiku. Tapi dia mengingatkanku akan diriku yang sebenarnya. Musiknya juga membuatku ingat akan mimpiku dan membuatku bersemangat mewujudkannya. Aku jadi tidak terlalu fokus dan terobsesi padanya.

Sekarang... Aku menyukai banyak orang. ONE OK ROCK, Alice Nine, 30 Seconds to Mars, Hoobastank, Flyleaf, Jessie J, Lady Gaga, My First Story, ROOKiEZ is PUNK'D, SPYAIR, Oasis, dan juga semua artists di playlistku. Aku senang karena akhirnya aku bisa lebih objektif. Aku senang karena aku menjadi lebih universal dalam menyukai musik. Semoga ini menjadi yang terakhir. Aku selalu berharap begitu.