Jumat, 02 November 2012

Love and Obsession: A Story of My Disorder

Allow me to use Bahasa Indonesia 'cause I'm not in the mood of using English. This writing is only my opinion so I don't want to offend anyone.

Aku itu moody.
Aku itu bosenan.
Aku itu cepat heboh, untuk kemudian cepat bosen.
Itulah B-type. Lhoh, jangan salahkan blood type.

Tapi memang begitulah aku. Aku adalah seorang maniak musik yang bercita-cita menjadi musisi, singer-songwriter. Sebagai pecinta musik, tentu saja aku banyak mendengarkan berbagai jenis musik. Mulai dari yang paling pelan sampai yang paling keras. Dan aku selalu seperti itu.

Masalah utama yang membuatku terlihat labil di mata orang adalah sifatku yang moody dan bosenan. Tiap kali suka satu artist, aku selalu heboh tapi kemudian aku akan bosan dengan artist itu karena aku menemukan artist lain yang menurutku lebih keren. Tidak asik memang, dan tidak keren juga sifat seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, sudah karakterku.

Sekarangpun masih begitu. Saat ini aku sedang menyukai sebuah band yang menurutku sangat "wow" karena musiknya yang semangat, liriknya yang mengena, dan terutama vokalnya yang di atas rata-rata. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan menyukai mereka, tapi... Kita lihat saja.

Setelah ku telaah lagi fenomena kebosananku ini, ada satu gejala yang selalu muncul di setiap masanya: Aku selalu jatuh cinta pada salah satu personelnya. Yang kumaksud jatuh cinta di sini adalah terobsesi. Kebanyakan karena mereka terlihat ganteng di mataku. Aku merasa seperti memiliki mereka. Aku mencari asal-usul mereka dan mengetahui segala sesuatu tentang mereka. Kadang aku menyukai mereka memang hanya karena mereka ganteng semata. Padahal mereka musisi, yang seharusnya kuperhatikan musiknya. Tapi memang rata-rata personel yang ku sukai itu adalah gitaris. Berhubung aku juga bukan gitaris yang jago, waktu aku bilang kalau permainan mereka keren, tampaknya itu hanya efek dari kecintaanku pada (fisik) mereka. Pada kenyataannya, aku tidak begitu paham tentang gitar.

Mungkin saat-saat aku objektif adalah saat aku menyukai vokalisnya. Karena aku juga seorang vokalis, aku cukup mengerti tentang bernyanyi beserta teknik-tekniknya. Saat aku mendengar seorang vokalis, aku bisa menilai mereka secara objektif dan biasanya aku akan jatuh cinta pada suaranya, bukan fisiknya. Seandainya memang sang vokalis itu ganteng, itu hanya bonus. Tapi kecintaanku pada suaranya tetap lebih tinggi daripada kecintaanku pada fisiknya. Bahkan aku akan lebih merasa "aroused" saat mendengar suaranya daripada melihat fisik(wajah)nya.

Kemudian muncul sebuah masalah. Walaupun yang membuatku suka pada suatu band itu adalah vokalisnya, dan walaupun awalnya aku menyukai vokalisnya. Aku selalu berpindah ke lain hati, karena melihat personel lain yang lebih ganteng. Biasanya sasaranku adalah gitaris. Mereka memang terlihat keren dengan gitarnya. Dan seperti yang sudah kujelaskan di atas, kecintaanku pun mulai ternoda dan aku mulai menjadi subjektif.

Dimulailah hari-hari di mana aku terobsesi dengan sang personel band. Hidupku benar-benar dipenuhi bayangan(fisik)nya. Aku jadi hampir gila karenanya. Dan setelah kupikirkan lagi, yang kusukai itu "dia", bukan murni musiknya. Bahkan saat aku mendengar sesuatu yang salah dengan musiknya, aku menutup telinga dan pretending bahwa musik itu keren.

Itu terjadi sampai aku menemukan musik baru yang berbeda. Lalu akupun meninggalkannya.

Berita baiknya... Telah terbentuk sebuah titik balik terutama semenjak aku serius merampungkan skripsiku. Saat itu, jujur, aku tidak terlalu memikirkan band favoritku. Bahkan playlistku yang sebelumnya hanya berisi lagu-lagunya, menjadi tercampur dengan artists lainnya. Ada yang rock, pop, R&B, ya, aku mendengarkan banyak jenis musik waktu itu. Bahkan aku juga menyukai Lady Gaga. Lalu ada sebuah kejadian di mana seorang sahabat yang selalu membuatku stay in tune dengan band favoritku tiba-tiba pergi. Aku pun agak sedikit kehilangan semangatku yang dulu. Setelah skripsiku selesai, ada kekosongan dalam diriku. Saat itu aku tidak begitu terobsesi dengan band favoritku, tapi aku juga tidak menyukai artist baru. Butuh waktu agak lama sampai akhirnya aku menemukan spirit di band yang aku suka sekarang. Namun sebenarnya aku sudah mengenal mereka jauh sebelum itu, bahkan nama mereka masuk dalam ucapan terima kasihku di skripsi bersama dengan band favoritku saat itu.

Berita baiknya lagi... Sudah cukup lama aku mengenal mereka, aku masih tidak menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta seperti yang sebelumnya. Di dalam band ini sebenarnya ada personel yang ganteng. Tapi entah kenapa aku tidak sampai jatuh cinta lagi. Good omen?

Ya, memang, aku menyukai vokalisnya. Oleh karena itu aku lebih objektif. Perumpamaannya: I'll kiss him if he sings well, and I'll punch him if he sings poorly. Kebiasaanku mengorek informasi pun juga berkurang drastis. Jujur, aku tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi pada hidupnya. Aku lebih peduli dengan apa yang terjadi pada musiknya. Aku hanya perlu menonton konsernya!

Juga... Sekarang aku tidak terbayang-bayang oleh sang idola ke manapun aku pergi. Kegemaranku meng-upload foto-fotonya semata-mata adalah bentuk rasa cintaku pada suaranya yang benar-benar merubah hidupku. Saat melihatnya dan mendengarkan suaranya pertama kali, aku seperti diingatkan untuk kembali ke diriku yang sebenarnya, karena sudah beberapa lama aku mencoba meniru gaya menyanyi Jepang yang berbeda dengan gaya menyanyiku. Tapi dia mengingatkanku akan diriku yang sebenarnya. Musiknya juga membuatku ingat akan mimpiku dan membuatku bersemangat mewujudkannya. Aku jadi tidak terlalu fokus dan terobsesi padanya.

Sekarang... Aku menyukai banyak orang. ONE OK ROCK, Alice Nine, 30 Seconds to Mars, Hoobastank, Flyleaf, Jessie J, Lady Gaga, My First Story, ROOKiEZ is PUNK'D, SPYAIR, Oasis, dan juga semua artists di playlistku. Aku senang karena akhirnya aku bisa lebih objektif. Aku senang karena aku menjadi lebih universal dalam menyukai musik. Semoga ini menjadi yang terakhir. Aku selalu berharap begitu.

2 komentar:

  1. Rasa suka yang berlebihan itu bisa munculin rasa obsesi dan egoisme 'kan kak? Air mata, tenaga, sama duit semuanya udah keluar antara sengaja dan nggak. Abis itu, karena rasa bosan itu muncul, jadi ditinggal gitu aja. dan akan diinget lagi kalo waktunya ada. Apa ini termasuk pengkhianatan thdp musiknya, kak? Sumpah, aku jadi mikirin kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ampun, Wira. Baru tau aku kalo ada komenmu. Gomen ne... Akhir2 ini aku gak pernah buka blog. :P
      Mmmm... Menurutku kalo cuma sekedar bosen sih gak bisa dibilang pengkhianatan juga. Bosen kan gak berarti benci. Tapi kalo jadi benci, mungkin itu yang disebut pengkhianatan kali ya.
      Aku juga sering gitu kok. Dan ada banyak band2 yang dulu aku suka, trus bosen, trus sekarang suka lagi. Contohnya 30 Seconds to Mars, Hoobastank, n band2 bule yang dulu aku suka.
      Emang sekarang kamu lagi bosen ma satu band kah?

      Hapus